Cari Uang Sembari Wisata dengan Open Trip

Berawal dari lamunan mencari ilham untuk memperoleh pemasukan tambahan pada Maret 2014, Hani yang kala itu baru lulus kuliah memutuskan membuka usaha baru yang berawal dari kegemarannya berwisata, open trip. Tidak disangka, usaha wisata kecil-kecilan itu saat ini menjamur di kalangan anak muda urban sebagai opsi untuk 'kabur' dari penatnya aktivitas dalam sepekan.

Hani, seorang karyawati swasta di Jakarta, sebelumnya sempat membuka usaha dengan berjualan pempek di dekat sebuah mini swalayan. Tetapi, usaha tersebut gagal sebab dirinya wajib terus memeriksa ke lokasi sehabis kerja serta ia pun bosan dengan usaha itu.

Cari Uang Sembari Wisata dengan Open Trip

Bukan tanpa argumen Hani merasa ia tidak yakin menjalani usaha travel, sebab menurutnya usaha tipe itu membutuhkan teknik komunikasi yang baik serta wajib rutin ramah dengan pelanggan. Sedangkan ia mengaku moody. Tetapi berbekal pengalaman sebagai peserta open trip, dirinya pun lantas membuka jalur perdananya.

Hani memilih tiga pulau di Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Onrus, Pulau Cibir, serta Pulau Elor, sebagai destinasi pertamanya. Ia pun mengurus semuanya sendiri serta hanya bermodalkan publikasi di media sosial. Tidak sangka, terkumpul 75 orang sebagai peserta perdananya, serta ia tidak kenal satu pun.

"Saya waktu itu mikir, 'Anjir! 75 itu beneran orang semua? Gue wajib ngomong apa?' Ya telah dijalani saja, yang penting ramah serta akhirnya sukses," kata Hani. "Saya sengaja pasang harga terjangkau supaya peserta bisa menjadi langganan."

Strategi Hani tidak lebih lebih sukses. Saat ini tur yang ia beri nama Bima Tour Travel setidaknya mempunyai puluhan pelanggan tetap yang setia untuk ikut open trip yang ia sediakan. Mesikipun, ia mengaku sangat susah mengingat nama pelanggannya satu per satu.

Usaha open trip yang telah ia jalani, saat ini telah menyambangi beberapa tempat wisata di Indonesia, seperti Dieng, Pulau Pahawang, Kepulauan Seribu, Bromo, serta Belitung. Open trip yang ia buka biasanya diperbuat sebulan sekali sebab dirinya pun wajib menyesuaikan jadwal kerjanya yang padat. Tidak hanya itu, ia rutin berusaha untuk mengalami pengalaman trip sebelum ia tawarkan ke pasar.

"Saya belum berani bekerja sama dengan pihak lain bila belum ngerasain sendiri. Sebagai tour leader saya wajib telah sempat ke sana. Sebab ini terkait dengan nilai, lagipula bila ada apa-apa, pelanggan rutin komplain ke saya mesikipun ada tour leader saya di dalam rombongan," kata Hani.

Atas nama nilai, maka Hani pun rutin rela 'blusukan' menjelajah daerah-daerah baru yang bakal ia jadikan sasaran wisata berikutnya. Tidak ayal, ia wajib tanya serta negosiasi sana-sini untuk memperoleh fasilitas yang ia anggap pantas dibeli oleh pelanggannya. Dalam bisnis open trip, operator terbukti wajib bekerja sama dengan orang setempat dalam pengadaan fasilitas penunjang.

"Biasanya saya tahu dari sosmed, kan ada akun-akun lokal tuh, nah saya minta rekomendasi. Pas telah di sana, wah saya telah kayak emak-emak deh, tanya ini-itu, nyatet harga, nego, minta diskonan," kata Hani sembari tertawa.

Saingan Antar Operator
Teknik Hani untuk tetap mempertahankan nilai merupakan salah satu kunci supaya ia tetap bersi kukuh di bisnis yang terus lama makin tidak sedikit bertebaran. Hani pun mengakui gesekan antar operator travel tidak bisa dipungkiri terjadi di lapangan.

"Saya rutin mematok harga yang tidak mahal sekali, tetapi juga tidak terlalu terjangkau. Misal yang lain memasang Rp600 ribu untuk sebuahtujuan, saya memasangnya Rp575 ribu. Ada terbukti yang sangat terjangkau, tetapi fasilitasnya ditidak lebihi serta itu sangat mematikan harga dari operator travel lain," tutur Hani.

Tapi Hani tidak ambil pusing. Berbekal pengalamannya, ia percaya bila seorang pelanggan telah enjoy dengan pelayanan bernilai, maka ia bakal kembali lagi. Pun selagi ini dirinya mengaku tidak sempat mengalami defisit, mesikipun beberapa kali dirinya wajib rela mengeluarkan biaya lebih sebab sebuahpersoalan.

Hani mengaku pendapatannya ketika high season seperti Agustus serta Desember, bisa berkali-kali lipat,  setidaknya tiga kali, dibandingkan gajinya dari pekerjaan kantoran. Panen keuntungan itu bukan hanya dirasakan olehnya, tetapi juga anak buah timnya yang lain.

"Tidak sedikit operator lain yang nyindir bahwa saya menekan terlalu rendah harga dari orang lokal, padahal saya juga tidak tahu kenapa orang-orang lokal memberi saya harga yang lebih terjangkau serta sejauh ini mereka memberbagi pelayanan yang keren," kata Hani.

"Tapi saya juga sebal bila ketemu pelanggan yang bertanya harga hanya sekedar membandingkan mana yang lebih terjangkau. Perpersoalanannya, tidak sedikit juga kawan saya yang hanya menggantungkan penghasilannya dari usaha ini, jadi otomatis mahal," kata Hani. "Saya kalau ketemu pelanggan yang hanya membandingkan mana yang terjangkau, saya katakan 'silakan pakai yang terterjangkau'."

Ucapan Hani terbukti terlihat galak, tetapi ia mengakui rutin jujur dalam mengungkapkan keadaannya. Sempat sebuahkali ia mengkritik tawaran destinasi baru kepadanya sebab ia anggap bahwa destinasi baru itu lebih tidak sedikit nyamuk ketimbang objek wisata.

Hani bukan hanya mengadakan open trip bagi para pekerja ibukota yang ingin melarikan diri dari kepenatan, tetapi juga menyediakan jasa outing bagi perusahaan. Hani mengakui mengelola outing alias kegiatan liburan sebuah perusahaan ini sangat meningkatkan pendapatannya. Ia lumayan menanyakan kebutuhan perusahaan serta sisanya biarkan Hani serta tim yang mengatur jadwal.

Ia pun mempunyai segudang rencana marketing dalam mengembangkan usahanya ini, tergolong mempromosikan dengan cara off-line melewati brosur. Tetapi, lantaran dirinya juga menjadi karyawan, ia tetap belum sempat mengerjakan rencananya itu. Tergolong menjalani beberapa survei guna memenuhi permintaan jalur open trip dari pelanggan yang membanjiri teleponnya.

Hani beruntung mempunyai pelanggan yang mengerti keadaannya. Bahkan, Hani sempat menolak permintaan pelanggan sebab ia serta timnya sedang sibuk dengan pekerjaan lain jadi tidak bisa memenuhi permintaan. Tapi sang pelanggan mengerti walau tetap kukuh memakai jasa Hani, akhirnya, Hani mengutus rekannya di daerah guna memenuhi kemauan klien.

Menolong Masyarakat Lokal
Hani mengaku bahwa usaha open trip yang ia perbuat sangat menolong masyarakat lokal. Dengan kehadiran ia serta travel tour lainnya membuka destinasi baru di daerah serta merekrut masyarakat lokal, maka bakal memberbagi sumber pendapatan bagi mereka.

"Asal tahu saja, sejak buka open trip ini, yang menelpon saya bukan lagi gebetan-gebetan. Tapi tukang kapal, tukang ELF, tukang bus! Mereka biasanya menelpon di tengah pekan bertanya akankah saya bawa pelanggan ke sana, mereka kan kasarnya telah bergantung ke saya juga," kata Hani.

Apabila telah menerima telepon seperti itu, Hani langsung sibuk mencari peserta. Terkadang Hani merasa terbebani, tapi di segi lain, dirinya juga ingin menolong. "Tapi sejauh ini saya tulus menolong mereka juga. Makanya suka jengkel kalau dicurangi orang lokal, telah tulus kok malah dicurangi. Ya saya tidak pakai lagi jasanya," kata dia.

Usaha Hani bukan tanpa pengorbanan. Saat ini dirinya tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta. Rutin ada kekhawatiran bahwa usaha open trip ini bakal membikin kinerjanya menurun. Tetapi sejauh ini, pihak perusahaan belum mengatakan apapun mesikipun mengenal usaha sampingan Hani ini.

"Entah kenapa saya sayang banget dengan usaha ini serta sangat happy bila berkata soal ini," kata Hani. "Ya sebagai travel agent sih saya sebetulnya muak dengan destinasi yang itu-itu saja, makanya buka destinasi baru. Lagipula terus tidak sedikit juga travel tour yang sebelumnya peserta open trip juga, tapi sejauh ini tidak persoalan rezeki orang beda-beda," lanjutnya sembari tersenyum.
Share
 
Copyright © 2015. surbatteries.com.
Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Themes Paper. Powered by Blogger.
Creative Commons License